SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID

Seribu Pernak Pernik Ponsel Android Seandainya aku bisa memenuhi permintaan ayah, pasti aku akan mengubah kelaminku semasa di kandungan ibu. Sehingga ayah tak perlu memperlakukanku seperti itu. Tapi, aku tak punya daya apa-apa. Semuanya terjadi secara magic kun fayakun atas kehendak-Nya. Aku tetap terlahir sebagai seonggok daging hawa yang telah tertulis rejeki, jodoh dan kematianku di semester kehamilan tujuh bulan ibuku.

Tapi, ternyata garis hidupku hanya berlaku di masa pertumbuhanku beranjak 18 bulan. Ku tatapi sendiri, tubuhku yang telanjang halus nan kuning langsat, kini semuanya membiru dan memucat. Sekumpulan orang aneh tengah mengerubungiku. Entah berapa jumlahnya, karena aku tak tahu apa-apa, apa yang sedang mereka lakukan terhadap tubuhku. Sungguh nol persen, aku benar-benar tak mengerti. Biar jelas, akan ku beri tahu gambarannya, penampilan mereka memakai baju putih lengan pendek, hanya mata mereka yang terlihat, bagian permukaan wajah yang ditengah mulai hidung, pipi, mulut sampai dagu tertutup oleh kain hijau yang kedua ujung talinya masing-masing menggantung di kedua telinga mereka.

Tangan mereka yang terbungkus dengan benda putih mulai meraba-raba beberapa anggota badanku, seperti mulut, tangan, dada, dan punggung. Sesekali mereka mengamati kulit lenganku yang memang nampak samar menghitam, dan bibirku yang semula ranum nan mungil telah mengkerut jontor. Lalu, beralih ke bagian dada dan punggungku, telapak dan jari tangan mereka mengelus-elus kedua tubuhku ini. Bahkan ada yang memegang leher belakang dan leher depanku, seraya menekan-nekan tulang leher dan tulang belikat. Sekali lagi, aku tak paham, mengapa mereka lakukan hal itu padaku, padahal mereka tahu aku sudah tak mempan lagi untuk diajak bermain ataupun bercanda tawa karena tergoda akan perlakuan mereka seperti itu.

Hampir satu jam, kurasa mereka menyudahi aktifitas mengotak-atik tubuhku. Mungkin mereka bosan, karena tak ada respon sama sekali yang bisa kuberikan. Yah, karena aku memang sudah tidak bisa berteriak-teriak, seperti saat pertama kali ku menghirup udara kehidupan luar, seperti saat ku mulai bisa menggerak-gerakkan tangan dan kakiku, disaat ibu menimang-nimang diriku di pangkuannya. Aku tak tahu mengapa diriku tak seperti dulu, tertawa keras disaat tergelitik, menangis di saat kelaparan.

Setelah menulis sesuatu di map file kertas yang dibawa, mereka pun menuju pintu keluar. Sebelum keluar, tak lupa mereka menyelimutiku dengan kain putih polos. Tapi, mengapa mereka memasang kainnya mulai atas kepala sampai ke kaki. Tak seperti ibuku, yang biasanya memberiku selimut hingga sebatas leher saja, belum lagi selimut yang kupakai bergambar spangebob, belum lagi sebelum ku terlelap ibu mendendangkan lagu ninabobo. Tapi, orang-orang tadi, tak satu pun menyanyikan lagu untukku. Malah meninggalkanku sendiri di ruang putih tak berpenghuni ini.

SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID Tapi, sebentar, sepertinya ada yang berbeda dari kondisiku barusan. Mengapa bibir dan lenganku tak semolek dulu? saat ibu bersusah payah mengeluarkanku, seluruh kulitku mulus tak ada bintik-bintik. Tidak seperti ini. Tunggu, sepertinya aku ingat, mengapa diriku seperti ini? Hm, aku tahu, terakhir kali aku bersama ayah di dalam rumah, dan saat itulah kulihat wajah ayah begitu menakutkan, karena aku terus merengek, saat ibu pergi keluar.

Dan tiba-tiba kejadian itu perlahan mengajakku kembali, memutar tiap kepingan-kepingan hari terakhirku.

# # #

Desember 2008

“Ibu gak setuju Ris,”

“Tapi bu, Risma sangat mencintai mas Salim, jadi Risma mohon, restui hubungan kami, karena kami berdua ingin menikah,” seorang gadis berusia 27 tahun tengah merajuk wanita tua dihadapannya itu.

“Menikah katamu Ris? Apa ibu gak salah dengar?” perempuan 50 tahun itu menatap tak percaya. Risma hanya merunduk.

“Oalaah Ris, opo awakmu wis lali nduk, awakmu sik nduwe suami, ileng ”

“Sudah lima tahun mas Rama gak pulang, bahkan sampai sekarang gak ada kabar sama sekali dari dia, dia sudah ninggalin Risma bu,”

“Ibu ngerti Ris, tapi selama kamu belum dicerai, kamu gak boleh menikah lagi nduk, karena kamu masih istri Rama, apa kamu gak mikir nasibnya Galih, anaknya Rama Ris, apa dia mau punya ayah baru” suara ibu Mila tak henti menasihati putrinya. Sedangkan Risma menunjukkan wajah bingung.

“Lagian, ibu juga gak setuju kalau kamu sampai menikah dengan Salim, dia tuh orangnya keras, denger-denger dia suka main tangan loh nduk, opo kowe ndak takut?”

“Itu gak bener bu, mas Salim emang orangnya keras, tapi yang Risma kenal dia gak pernah kasar sama Risma, ayolah bu, restui kami” Risma tetap keukeh membujuk ibunya.

Kepala ibu Mila menggeleng. Ia kukuh tidak akan membiarkan anaknya menikah lagi, apalagi dengan Salim, yang statusnya sama dengan Risma, masih memiliki istri dan dua anak.

“Sudahlah Ris, pokoknya ibu gak setuju kamu nikah lagi, terus sama si Salim, mendingan kamu gak usah berhubungan lagi sama dia, inget Ris, kamu dan Salim ndak boleh menikah, soale kalian belum bercerai dari pasangannya masing-masing,”

“Jadi kalau Risma sudah cerai dengan mas Rama, boleh Risma nikah sama mas Salim,”

“Tetap gak boleh Ris, karena Salim itu orangnya gak sabaran nduk,”

“Tapi bu…”

“Wis cukup nduk, ibu wis nuturi awakmu, manut ora sak karepe kowe, awakmu wis gedhe”

Dengan raut kecewa, ibu Mila melangkah menuju kamarnya, ia sudah lelah berulang kali memberi petuah nasihat kepada Risma, yang ngotot ingin menikah dengan Salim, pemuda yang masih beristri itu jatuh cinta dengan putri bungsunya. Padahal, mereka seharusnya sadar, bahwa hubungan yang mereka jalani itu dilarang. Dimana pun, siapa pun, dengan alasan apapun, bagi mereka bersatatus punya istri atau suami, dan untuk menikah lagi, jelas harus berpisah dulu dengan pasangannya, sesuai dengan prosedur hukum pernikahan.

Dengan alasan saling mencintai. Akhirnya Salim dan Risma memutuskan menikah. Herannya, mereka melakukannya tanpa persetujuan dari kedua belah pihak keluarga, artinya mereka nikah siri secara diam-diam. Alias kawin lari. Karena memilih keputusan yang penuh tentangan dari masing-masing keluarga. Mereka pun memilih tinggal dengan sewa kos di tempat lain.

# # #

Awalnya aku…

Kedua orang tuaku sama-sama menyibukkan diri dengan bekerja, agar bisa bertahan hidup. Ayahku Salim berprofesi sebagai tukang sopir angkot, sedangkan ibuku kerja serabutan di pabrik industri pangan. Oh ya, aku lupa usia pernikahan mereka sudah menginjak empat bulan, dan bulan ketiga kemarin, sebuah kabar bahagia dirasakan oleh ayah dan ibuku. Tatkala, suatu hari ibu terjaga dari malam panjangnya, berlari menuju ke kamar mandi sembari tangan kanannya menutup mulut, dan tangan kirinya memegang perut.

Weekkk. Cairan kotor keluar dari rahang tenggorokannya. Ayahku sontak terbangun, dan menyusul ibu ke belakang, melihat istrinya yang menekan-nekan keningnya, ayah seketika memijat-mijat leher ibu.

“Kamu masuk angin Ris?” tanya ayahku.

Ibuku menggeleng. Dengan senyum, ibu meraih tangan kanan ayah, lalu diletakkan ke perutnya. Pandangan binar ayah berpindah menatap ibu.

“Mas, anak kita,” ungkap ibu lirih, bibirnya mengembang gumirah.

“Selamat sayang, semoga anak kita laki-laki,” sahutnya.

“Kalau perempuan, gimana mas?”

“Akan kubunuh saja dia,”sorot matanya menajam.

“Mas,” Risma mencubit pinggul suaminya dengan manja. Ia anggap suaminya bergurau.

“Aku cuman guyon sayang, tapi aku ngarep anak ku engko lanang,”

“Insyaallah-lah mas, perempuan atau laki-laki kan sama saja,” jawab ibuku, langsung menghambur ke pelukannya ayah.

Keduanya nampak senang, akan mendapat momongan buah cinta mereka, akan segera melengkapi hidup mereka. Tentu mereka merasa senang. Meski, mereka sadar, anak itu adalah bukanlah anak pertama yang mereka punya dan bakal dibesarkan. Masih ada Galih anaknya Risma yang kini diasuh oleh ibunya di rumahnya dulu, sedangkan kedua jagoan Salim dibawa oleh istrinya, yang merantau ke luar pulau.

Namun aku tak peduli, saat itu, saat pertama kali aku telah bersemedi di dalam ovum milik ibu, muncul kerisauan dalam diriku, walau pun aku masih berbentuk embrio mirip kecebong yang baru saja berlomba-lomba dengan sekawanan ribuan sperma yang ingin menempati indung telur, jadi siapa yang bakal masuk duluan, yang lainnya pun akan ditolak, alias tereliminasi. Tetap saja, aku yang terpiliih dirundung cemas, bakal jadi apa aku ini, satu diantara dua pilihan yang akan menentukan jalan nafas hidupku, perempuankah aku? atau laki-lakikah aku? Atau menjadi dua-duanyakah aku ini? Itu masih misteri. Setelah mendengar perkataan ayah barusan, ia menginginkan anak laki-laki. Dan untuk mengetahui jenis kelamin janin itu harus menunggu lima bulan lagi, saat itulah aku akan tahu berwujud apakah aku kelak…

# # #

Agustus 2009

Anggota tubuhku telah sempurna, ruhku pun menyatu dalam jiwa. Seakan ada yang berbisik, dan memerintahkan aku untuk menggerak-gerakkan kaki dan tanganku. Aku pun berusaha merenggangkan persendian otot-otot tubuhku, untuk bersiap-siap keluar dari pertapaan Sembilan bulan ini, dalam kondisi melungker. Rasanya aku ingin menegakkan tubuhku. Dibantu dengan cairan pelicin yang melumuri badanku, sekuat tenaga ibu ngedden mendorongku, memaksaku kuat keluar dari rahimnya, hingga…

“Oweekk….” lengkingan suaraku meruak.

Samar-samar setitik cahaya menerpaku. Ku intip perlahan-lahan segerombolan bulatan kecil yang berkerjap, ku latih penglihatanku yang agak seliweran mencoba membuka untuk mengetahui sumber benda itu, yang semakin lama semakin membesar. Dan…

“Selamat nyonya, bayi anda perempuan,”

Kurasakan ciuman lembut di pipiku. Ibu mendekapku terharu saat melihatku normal.

“Pak Salim, silahkan masuk, selamat ya pak, anda mempunyai putri yang cantik dan sehat,” dokter mengajak ayahku ke ruang persalinan.

“Mas, adzanin dia,” ibu menyodorkan tubuh kecilku yang masih lemas. Hm, rasanya aku tak sabar mendengarkan suara ayah berkumandang kalimat takbir dan thoyyibah. Ayah masih menatapku kaget. Ia hanya membisu. Ada apa dengan ayah? Kenapa ia tak langsung mencium atau merangkulku seperti yang dilakukan ibu.

“Mas,” ayah terperanjat.

Setengah gemetar ia pun membopongku. Lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku. Dan…

“Allahu akbar, Allahu akbar…” seketika telingaku menderu-deru, menerima gelombang desauan kalam-kalam Tuhan, yang berjalan menyatu, menjalari setiap ragaku. Suara ayah yang parau, membuatku tenang. Tapi, masih saja, aku digeluti pertanyaan. Paska ayah mengadzanin aku, wajahnya tak sesumringah ibuku. Ku rasakan sikapnya dingin, tak satu pun kecupan ku peroleh darinya. Ia malah seloyoran keluar membiarkanku berdua dengan ibu di atas bangsal. Tak sepatah kata terucap dari bibirnya, kenapa dengan ayahku?

“Loh suami ibu mau ke mana?” tanya suster sambil memberiku handuk putih.

“Mungkin dia ke bagian administrasi sus,” jawab ibu.

Kayaknya ia berbohong. Aku dapat mengetahui hal itu, dari tatapan sendu ibu yang tak hentinya mengekoriku sedari ayah masuk ke dalam ruangan. Gurat risau nampak menggelayuti wajahnya. Meski aku tak tahu pasti, apa yang sedang ibu pikirkan saat itu? sayangnya aku tak bisa menanyainya. Lidahku masih kelu. Kedua mataku masih melembayu sayu. Untuk bergerak saja, seluruh tulang ditubuhku masih belum kokoh. Mungkin saat ini, aku tak bisa berbuat dan berkata apa-apa, tapi suatu saat nanti, aku pasti menanyakan satu hal, tentang mengapa ayah tak mengecup keningku saat aku lahir ke dunia…

# # #

Mei 2010

Umurku 10 bulan…

“Mas hentikan!”

Ibu berhambur mendekatiku, ia berusaha melepas tali yang mengikat tubuhku.

“Biarkan saja dia Ris, dari tadi dia gak bisa diam, bisanya nangis melulu, dikasih susu, malah gak di minum,” Salim menendang botol susu yang tergeletak tak jauh dari sampingku.

“Tapi mas, gak seharusnya Fiya diperlakukan seperti ini, tega sampean ya!” keluh Risma dengan isak tangisnya.

“Aku kesal dia nangis terus, Ris, dia itu rewel sekali, setiap hariii…nyusahin kita terus,”

“Mas itu jahat sama Fiya, dia itu belum ngerti apa-apa, dan gak semestinya dia di siksa seperti ini,” ibu langsung menggendong tubuhku, dilihatnya lengan tanganku memerah.

“Apa kamu bilang Ris, di siksa? Kamu kira aku menyiksa anakku sendiri, aku hanya memberi dia pelajaran, hukuman atas rengekannya yang bikin aku pusing,” Salim memegang kedua sisi kepalanya.

“Cukup mas, kita harus cepat membawa Fiya ke rumah sakit,” ibu memeriksa dahiku, suhu panas merambati sekujur badanku. Dan kedua mataku telah bah dengan cairan bening, pelupuknya pun membengkak.

“Ngapain di bawa ke rumah sakit, buang-buang uang saja, mendingan kamu tidurin dia di kamar, suruh dia berhenti nangis, bisa budek nanti telingaku,” oceh Salim, tak menggubris. Tanpa peduli dengan ibu dan aku, ayah melenggang pergi.

Sedangkan ibu menimangiku ke dadanya, dan kurebahkan kepalaku ke pundaknya. Dengan cucuran air mata, Ibu mengambil selendang panjang berbahan jarik, untuk dipasangkan ke pantatku, lalu ia lingkarkan ke tubuhnya bersilangan, agar bisa menahan tubuhku, ia mengeratkan ke belakang punggungnya yang bertumpu pada sisa selendang.

“Tatiitt……” ucapku yang belum fasih berkata ‘sakit’.

“Astaghfirullah, tenang ya sayang….kita ke dokter ya sekarang,” ibu melangkah cepat, menaiki becak, ia mendekap tubuhku, yang hampir sekarat karena perbuatan ayah.

Sungguh, aku kira ayah akan menghiburku, saat aku lantang menjerit, karena kain alas bokongku telah basah dengan air seni. Dan pada saat itu, ibu keluar sejenak membeli popok pengganti. Dan ayah yang dimintai ibu menjagaku, tak tahan mendengar mulutku merongrong tangis. Kala itulah, ayah membentakku, menyuruhku tuk diam. Sehingga, aku ketakutan, membuat bendungan air mataku deras berjatuhan. Dan semakin ku kencangkan isakku, karena aku tak suka ayah bersikap begitu. Sehingga, ayah berjalan mencari benda yang bisa membuatku anteng. Ayah memberiku botol susu, dan memasukkan dotnya ke kedua ujung bibirku dengan paksa, aku pun berontak dengan melemparnya jauh.

Ayah pun semakin geram dengan tingkahku, ia pun kembali memungut sesuatu dari balik laci kayu. Yah, dia memegang seutas tali panjang, dan aku yang baru bisa belajar duduk. Seketika kedua tanganku diikat di atas paha, begitu juga kakiku yang ikutan meronta-ronta turut terkebat. Sampai akhirnya, ibu datang dan menyelamatkanku. Aku tahu ayah pasti gerah, tiap kali aku sulit dibujuk tuk berhenti merengek. Dan tuk mencari solusi ini, ayah tak segan-segan mengikatku, mencubitku, bahkan memukul pinggulku. Kadang saat ibu memergoki perlakuan ayah, ibu pun juga kena sasaran tendangan luapan bringas ayah. Tak ayal, aku kerap menonton ibu di aniaya, di waktu berusaha melindungiku. Ah, sebegitu nakalkah aku? Padahal waktu itu, sebenarnya aku hanya memberi isyarat ke ayah, bahwa aku tak sanggup duduk dengan kondisi kain basah di pantatku.

# # #

Januari 2011

Aku sedikit senang, akhirnya ayah tak lagi memperlakukan aku seperti 10 bulan lalu. Ayah sekarang berubah, dia sering memanjakan aku. Terlebih, saat sepulang kerja ia pernah membelikan aku boneka Bernard bear kecil. Tapi, ayah begini bukan tanpa sebab, ada asap pasti ada api. Lantaran ibu tak mau mendapatiku di siksa terus oleh ayah, ibuku mengancam akan meninggalkan ayah, jika ayah selalu mengasariku. Saking cintanya yang begitu besar, ayah pun berjanji kepada ibu, tak akan mengulangi hal itu lagi.

Sikap manis ayah pun mulai membuatku nyaman, mulai menyuapiku, memandikanku, mengajakku bersendawa, ayah lakukan dengan baik. Walau sungguhnya perubahan itu belum sepenuhnya membuatnya jera. Ada kalanya aku menangis ayah sesekali memberiku ceplesan tangannya, tanpa sepengatahuan ibu. Namun, itu sudah cukup memancingku untuk berlatih tak merengek lagi. Yang penting ayah tak lagi melilitkan benda yang berutas-utas panjang ke tubuhku. Meski, masih ku rasa bekas perihnya pergelangan tangan dan kakiku saat ini, jika mengingat kejadian itu. Sayangnya waktu itu, aku tak bisa membalas perbuatan ayah, malah aku kian menangis pecah.

# # #

April 2011

“Praanggg………..”

Suara pecahan piring dari dapur.

“Sudah gak pernah masak, bisanya ngomel melulu,” sentak ayah dengan jengkel.

“Mas, uang yang mas kasih, itu belum cukup memenuhi kebutuhan kita, apalagi gaji mas bulan ini sudah aku kasihkan ke bu kos, tadi dia nagih ke sini, jadi aku kasih semuanya,”

“Trus kamu gak megang uang sekarang? Hah! mau makan rumput?”

Risma diam mengalah. Karena ia juga terlalu kesal dengan suaminya, kerja seharian sebagai kernet angkot, penghasilannya begitu pas-pasan.

“Sudahlah, aku sekarang lapar, belikan aku nasi goreng sekarang, cepat!” pinta Salim. sembari melemparkan selembar uang kertas sepuluh ribu. Risma pun memungutnya, dan ia pun mematuhi titah sang suami, menuju pintu keluar.

Suara kacau mereka begitu membahana, gendang telingaku begitu kuat mendengar keributan mereka. Gara-gara kaget mendengar suara piring yang dijatuhkan ayah, perihal ibu tak memasak pada hari itu. Spontan, ayah yang baru pulang kerja malam hari, lepas kendali, mengatai ibuku tak becus mengurus suami. Ibu yang sedang menemaniku bercanda, dimintai ayah keluar membeli nasi goreng. Dan kini, tinggal ayah dan aku yang sedang menikmati botol susu yang berisi air putih bercampur gula. Sekitar dua bulan, ibu sudah jarang memberiku susu.

Ayah tengah rebahan di atas kursi dipan, kedua matanya terpejam. Ia tak memperhatikan aku sama sekali, padahal air botolku hampir habis. Dan sampai tetes terakhir, aku pun mulai resah karena aku masih merasa haus. Sejak beralih air, aku tak pernah kenyang, seperti minum susu. Kulemparkan saja botol susuku ke daun pintu. Dan…

“Fiya…”

Ayah malah menyampingkan tubuhnya . Tubuhku yang masih belum bisa berdiri tegak, merangkak menuju posisi ayah.

“Cu…cu…yah”

Kepalaku terus mendongak. Tak ada respon.

“Yah…cu…cu…”

Gak ada jawaban.

Lalu…

“Hiks…hiks…hiks…” air mataku mulai merebak. Dan perlahan mulutku melebar, dan suara tangisku pun membuncah. Menangis sekencangnya itulah yang kulakukan, agar ayah segera terjaga.

“Udahlah Fiya, gak usah nangis, tunggulah ibumu sebentar,”

Lalu semakin keraslah aku menangis dan menjerit.

“Uwaaaaa….”

Dengan gesit, ayah terperanjat dan menghadapiku.

“Sudah ayah bilang kan, diamlah dulu,” kedua tangannya kuat mencengkeram kedua lenganku.

Kujatuhkan tubuhku terlentang.

Wajah ayah menyeringai di depan wajahku, seraya mengoceh

“Ayah bilang, diam Fiya, nakal sekali kamu!!!” sentaknya. Tapi, tangisku kian menjelma. Upaya ayah menghentikan tangisku, kian membuatku kesakitan, saat rahang giginya menggigit bibirku. Makin kencang, kukeraskan jeritan sakitku, kurasakan tekanan perih itu menjalari mulutku.

“Berhenti menangis Fiya,” kini berbalik pundak dan tanganku yang digigitnya.

Bak serigala yang kehausan darah, ayah semakin membabi buta memperlakukan aku. Aku tahu ayah ingin merayuku tuk berhenti merengek, tapi caranya, begitu menyayati sekujur tubuhku. Biar saja, aku akan tetap menangis, sampai ayah membuatkanku susu. Namun ayah berbalik ke belakang, lalu kembali dengan membawa buntelan kain serbet dan seutas tali. Kain itu ia sumpalkan ke mulutku. Supaya aku bungkam. Tak hanya itu, lagi-lagi ia mengikat tangan dan kakiku yang meronta-ronta. Semakin lengkaplah siksa yang kuterima. Suara tangisku tersumbat, karena rahang mulutku terhalang oleh kain lap yang begitu mengangguku. Hanya air mata yang bisa menggambarkan, betapa sakitnya aku? padahal aku hanya ingin ayah memberiku susu, atau air putih manis, karena aku sangat lapar.

Walau tangan dan kakiku terikat, tetap saja tubuhku masih bisa bergerak-gerak. Ayah yang mengamati gelagatku, mukanya seketika bertambah merah. Tak ayal tangannya memukul perutku. Dan, menyusul dalam hitungan detik saja refleks kaki kanan ayah menendang tubuhku tiga kali dengan kalap. Aku pun hanya menangis, nangis, nangis, menahan pilu kesakitan yang kian merambah dari ujung kaki hingga kepalaku, hingga akhirnya pelan-pelan aku terdiam dengan sendirinya, saat telapak kaki kanan ayah menekan-nekan di atas dadaku. Hingga jantungku tak mampu bertahan, nafasku tersengal-sengal penuh sesak. Perlahan pompa jantungku melemah, degupannya semakin kecil. Dan pada waktu itulah untuk selamanya kedua mataku tertidur.

Entah ayahku sadar atau tidak, akan kondisiku. Ku dengar ia hanya bilang,

“Kapok! Akhirnya kamu capek juga nangis, makanya Fiya jangan bandel, harus nurut sama ayah,” ia menjongkokkan badannya menatapiku. Sembari mengelus keningku. Ia merasa berhasil, karena telah sukses membuatku terpejam pulas. Iya, ia telah berhasil melepas nyawaku untuk terbang ke langit. Terenggut dalam keabadian yang tak kan bisa kembali. Padahal aku masih ingin bersama ayah, untuk menanyakan, apa salahku yah?

###

Keesokan hari…

Sebuah koran harian pagi memasang berita heboh di halaman depan.

Tragis, Bapak Bunuh Anak Kandung

Dipicu ingin anak Putra, bayi 18 bulan disiksa.

Itulah yang dialami Alfiyah Agustina Safitri, sungguh malang nasib bayi perempuan ini harus menemui ajalnya di tangan ayahnya sendiri. Salim Sumandi, sengaja membunuh anaknya lantaran Alfiyah terus menangis.

Beberapa bukti nampak jelas, dengan banyaknya luka memar di sekujur tubuh, menunjukkan sebelum meninggal Alfiyah menerima siksaan. Seperti bekas luka gigitan di bibir, dan tanda-tanda lebam di lengan tangan dan kaki, akibat ikatan kencang yang diperbuat Salim. Kebiadaban Salim bertingkah layaknya binatang, membuat bayi itu tak bernafas lagi sesampai di rumah sakit. Di duga Salim memiliki sikap temperamental, sehingga ia suka memukul anak dan istrinya.

SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID Sedangkan di ruang Forensik RSUD, Risma tak kuasa membendung air matanya yang terus berjatuhan. Ia baru saja menandatangi surat persetujuan otopsi terhadap buah hatinya.

SELESAI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s